KARAWANG, Alexanews.id – Buruh merupakan bagian penting dalam keberlangsungan sebuah perusahaan. Namun, di tengah perkembangan industri dan teknologi yang semakin pesat, masih muncul pertanyaan: apakah buruh benar-benar dipandang sebagai aset atau hanya sebatas tenaga kerja?

Menurut saya, saat ini masih ada perusahaan yang memandang buruh seperti mesin produksi. Ketika dibutuhkan, tenaga mereka digunakan. Namun, ketika kondisi perusahaan berubah, nasib buruh bisa terancam melalui pengurangan tenaga kerja hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Padahal, buruh bukanlah robot. Mereka adalah manusia yang memiliki keluarga, kebutuhan hidup, dan kontribusi besar terhadap perusahaan.

Sejak tahun 1990-an, konsep Human Resource Accounting atau Akuntansi Sumber Daya Manusia yang dikembangkan Rensis Likert menekankan pentingnya memandang karyawan sebagai investasi jangka panjang.

Artinya, keahlian, pengalaman, dan kemampuan pekerja seharusnya menjadi bagian penting dalam perkembangan perusahaan.

Di era digitalisasi saat ini, penggunaan robot dan otomatisasi memang tidak dapat dihindari. Teknologi dapat membantu meningkatkan produktivitas, tetapi dampaknya terhadap keberlangsungan pekerjaan buruh juga harus menjadi perhatian.

Jangan sampai kemajuan teknologi justru membuat buruh kehilangan pekerjaan tanpa mendapatkan perlindungan dan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan.

Imbauan Saja Tidak Cukup

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pernah mendorong perusahaan agar mengubah cara pandang terhadap buruh. Pekerja tidak semestinya hanya diposisikan sebagai tenaga kerja, tetapi juga sebagai aset, mitra, dan bagian dari keluarga perusahaan.

Menurut saya, pernyataan tersebut penting untuk membangun hubungan industrial yang sehat. Namun, imbauan saja belum tentu cukup untuk memastikan seluruh perusahaan menerapkannya.

Karena itu, perlu ada kajian dan pembahasan kebijakan yang lebih kuat agar perlindungan terhadap buruh memiliki dasar hukum yang jelas dan dapat diterapkan secara efektif.

Pemerintah, DPR RI, pengusaha, dan serikat pekerja perlu duduk bersama membahas langkah konkret untuk memperkuat perlindungan pekerja, termasuk menghadapi dampak otomatisasi dan PHK.

Buruh Bukan Sekadar Angka Produksi

Buruh bukan hanya angka dalam laporan perusahaan. Di balik setiap pekerja, terdapat keluarga yang bergantung pada penghasilannya.

Perusahaan memang membutuhkan keuntungan dan efisiensi. Namun, kepentingan tersebut seharusnya tetap berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap hak dan kesejahteraan buruh.

Sudah saatnya perusahaan memandang buruh sebagai mitra yang memiliki peran penting dalam kemajuan usaha.

Buruh bukan mesin yang bisa dihidupkan dan dimatikan sesuka hati. Buruh adalah manusia yang berhak dihargai, dilindungi, dan diperlakukan secara adil.

Kemajuan industri seharusnya tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan dan kecanggihan teknologi, tetapi juga dari bagaimana perusahaan memperlakukan para pekerjanya.

Ditulis Oleh:
Ahmad Akbar
Anggota SPKPD
PT Pindo Deli Pulp and Paper Mills

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.