KARAWANG, AlexaNews.ID – Pemerintah Kabupaten Karawang terus mematangkan strategi percepatan penurunan stunting melalui berbagai inovasi yang digagas Dinas Kesehatan. Langkah ini diambil menyusul dinamika angka stunting dalam beberapa tahun terakhir yang menunjukkan tren fluktuatif.

Berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Karawang tercatat 20,6 persen pada 2021. Angka tersebut sempat turun menjadi 14 persen pada 2022, namun kembali mengalami kenaikan pada tahun berikutnya. Sementara itu, data e-PPGBM menunjukkan tren berbeda, yakni penurunan dari 2,7 persen pada 2021 menjadi 1,54 persen pada 2023, sebelum naik tipis menjadi 1,8 persen pada 2024.

Kondisi ini mendorong Pemkab Karawang melakukan penguatan intervensi berbasis kolaborasi dan perubahan perilaku masyarakat.

  1. Sekolah Balad Tangkas, Cegah Anemia Sejak Remaja

Salah satu inovasi yang kini menjadi perhatian adalah program Sekolah Balad Tangkas. Program ini difokuskan pada pencegahan dan penanganan anemia di kalangan remaja, terutama remaja putri di sekolah.

Melalui skrining rutin, pemberian tablet tambah darah (TTD), serta edukasi perubahan perilaku dengan pendekatan empat pesan kunci Gres Kece Karawang, pemerintah menargetkan penurunan prevalensi anemia remaja.

Selain pemeriksaan kesehatan, siswa juga diedukasi pentingnya sarapan, aktivitas fisik, serta menjauhi rokok. Program ini tak hanya melibatkan guru dan siswa, tetapi juga orang tua.

Pemkab Karawang bahkan menyiapkan pelatihan bagi 200 siswa sebagai kader kesehatan remaja pada 2025. Para kader ini akan menyampaikan pesan gizi melalui pendekatan teman sebaya, baik secara langsung maupun lewat media sosial dan konten kreatif.

  1. Pentahelix Desa Tangkas Stunting

Di tingkat desa, Dinas Kesehatan mengembangkan model Pentahelix Desa/Kelurahan Tangkas. Konsep ini menggabungkan peran pemerintah, swasta, akademisi, media, dan masyarakat dalam upaya pencegahan stunting.

Salah satu bentuk nyatanya adalah Pos Gizi Terintegrasi yang menyediakan layanan edukasi, demo masak, serta pemberian makanan tambahan bagi balita. Orang tua juga diberikan penyuluhan kelompok untuk meningkatkan pemahaman tentang gizi anak.

Targetnya jelas, tidak ada kasus stunting baru di desa lokus dan terjadi penurunan signifikan balita bermasalah gizi. Pendekatan ini juga diharapkan membentuk perubahan perilaku jangka panjang di masyarakat.

  1. Aplikasi Tangkas Berbasis Peta Digital

Pemkab Karawang juga memanfaatkan teknologi melalui Aplikasi Tangkas. Platform ini menyajikan dashboard permasalahan gizi balita, remaja, dan ibu hamil berisiko dalam bentuk peta digital.

Data diperbarui setiap bulan oleh puskesmas dan telah melalui proses validasi petugas. Dengan sistem ini, pemerintah daerah dapat menentukan kebijakan atau intervensi secara lebih tepat sasaran berdasarkan kondisi riil di lapangan.

  1. Edukasi Buku KIA Lewat Media Audiovisual

Inovasi lain yang dikembangkan adalah sosialisasi pengisian Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) menggunakan media audiovisual. Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua tentang pentingnya memantau tumbuh kembang balita.

Melalui video edukatif yang mudah dipahami, tenaga kesehatan dapat menyampaikan informasi secara lebih efektif. Orang tua juga didorong aktif mengisi kolom pemantauan perkembangan anak secara benar dan rutin.

Pendekatan ini sekaligus menjadi model awal pengembangan media edukasi sederhana yang bisa dimanfaatkan berkelanjutan di tingkat puskesmas.

  1. Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku

Dinas Kesehatan juga menjalankan Strategi Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) untuk mempercepat penurunan stunting. Program ini mencakup advokasi kepada pemangku kepentingan agar lahir kebijakan pendukung hingga pelatihan komunikasi interpersonal bagi tenaga kesehatan dan kader posyandu.

Kampanye publik tentang pencegahan stunting digencarkan di berbagai wilayah intervensi. Tujuannya meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong perubahan perilaku kunci, mulai dari pola asuh hingga pemenuhan gizi keluarga.

  1. Program Kapeuting, Kalibrasi Alat Posyandu

Demi memastikan akurasi data, Pemkab Karawang menggandeng Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi melalui program Kapeuting (Kalibrasi Peduli Stunting). Program ini melakukan kalibrasi alat antropometri di posyandu, seperti timbangan dan alat ukur tinggi badan.

Dengan seluruh alat terkalibrasi, hasil pengukuran bayi dan balita diharapkan lebih akurat sehingga intervensi yang dilakukan benar-benar sesuai kebutuhan.

Kepala Bappeda Karawang, M. Ridwan Salam, menilai pendekatan konvensional tak lagi cukup untuk menghadapi persoalan stunting. Karena itu, sejak 2022 pemerintah mulai memanfaatkan media sosial, video edukasi, hingga podcast untuk menjangkau masyarakat lebih luas.

Pemkab juga menggandeng sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Sejumlah perusahaan besar seperti Nestle, P&G, dan Astra Otoparts dilibatkan dalam berbagai intervensi gizi.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Karawang, dr. Nurmala Hasanah, menegaskan pentingnya strategi komunikasi yang mudah dipahami masyarakat.

“Informasi harus sederhana dan mudah diingat agar bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 2,5 juta jiwa yang tersebar di 30 kecamatan, 12 kelurahan, dan 297 desa, tantangan penurunan stunting di Karawang memang tidak ringan. Namun melalui pendekatan kolaboratif, inovatif, dan berbasis data, Pemkab optimistis target penurunan stunting dapat tercapai secara berkelanjutan. (Risang)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.