PURWAKARTA, alexanews.id – Ketua Gerakan Taruna Indonesia, Victor Edison, mempertanyakan urgensi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang kerap mengajak sejumlah bupati dan kepala daerah dalam berbagai kunjungan kerja ke sejumlah wilayah, termasuk ke Papua.

Sorotan itu muncul setelah sejumlah kepala daerah dari Jawa Barat terlihat mendampingi Dedi Mulyadi dalam agenda Konferensi Analisis Papua Strategis (APS) 2026 di Jayapura, Papua. Dalam rombongan tersebut tampak beberapa kepala daerah seperti Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian hingga Wali Kota Depok Supian Suri.

Menurut Victor Edison, masyarakat berhak mengetahui tujuan konkret dari keikutsertaan banyak kepala daerah dalam setiap kunjungan gubernur ke luar daerah.

“Kami mempertanyakan apa urgensi mengajak banyak bupati dalam setiap kunjungan. Jika memang ada kepentingan strategis untuk daerah, tentu harus dijelaskan secara terbuka kepada publik,” kata Victor Edison, Minggu 31 Mei 2026.

Ia menilai transparansi menjadi hal penting agar tidak menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Terlebih, kunjungan ke Papua melibatkan sejumlah pejabat daerah yang memiliki tanggung jawab masing-masing di wilayahnya.

Victor menegaskan, publik juga perlu mendapatkan penjelasan mengenai sumber pembiayaan perjalanan tersebut. Menurutnya, masyarakat berhak mengetahui apakah kegiatan itu menggunakan anggaran pemerintah daerah, anggaran pribadi, atau sumber pembiayaan lainnya yang sesuai ketentuan.

“Pertanyaan berikutnya, anggarannya dari mana? Kemudian apa output dan manfaat nyata yang didapat masyarakat Jawa Barat dari kunjungan tersebut?” ujarnya.

Ia mengatakan setiap perjalanan dinas harus memiliki ukuran keberhasilan yang jelas, baik dalam bentuk kerja sama antar daerah, investasi, program pembangunan, maupun manfaat lain yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sebelumnya, Dedi Mulyadi diketahui menghadiri Konferensi Analisis Papua Strategis (APS) III Tahun 2026 di Jayapura sebagai pembicara yang membahas pembangunan berbasis budaya dan kearifan lokal. Kehadirannya di Papua merupakan undangan dari kalangan akademisi dan tokoh Papua yang tertarik dengan pendekatan pembangunan yang diterapkan di Jawa Barat.

Dalam forum tersebut, Dedi Mulyadi juga menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya pembangunan yang melibatkan masyarakat adat sebagai pelaku utama pembangunan daerah.

Meski demikian, Victor Edison menegaskan bahwa substansi kegiatan tidak boleh menghilangkan kebutuhan akan akuntabilitas publik. Menurutnya, semakin besar rombongan pejabat yang ikut dalam perjalanan dinas, maka semakin besar pula kebutuhan masyarakat untuk mengetahui manfaat konkret dari kegiatan tersebut.

“Kami tidak sedang mempersoalkan silaturahmi atau kerja sama antar daerah. Yang kami dorong adalah keterbukaan. Publik perlu tahu apa hasilnya, apa manfaatnya, dan bagaimana pertanggungjawaban anggarannya,” tegasnya. (Ega Nugraha)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.