BEKASI, alexanews.id – Wujud kepedulian dan empati ditunjukkan Kepala Desa Karangsari, Bao Umbara, saat mengantarkan langsung jenazah ayah dari Sekretaris Desa (Sekdes) Karangsari ke tempat peristirahatan terakhir, Sabtu 25 April 2026.
Suasana duka menyelimuti warga Kalendrowak, RT 03/02, Desa Karangsari, Kecamatan Cikarang Timur, menyusul wafatnya Bapak Debleng bin Bapak Izam, sesepuh kampung sekaligus orang tua dari Sekdes Karangsari.
Almarhum mengembuskan napas terakhir di usia 95 tahun setelah mengalami sakit karena faktor usia. Kepergian sosok yang dikenal sebagai orang tua sepuh di lingkungan tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga maupun warga sekitar.
Mendengar kabar duka itu, Kepala Desa Karangsari Bao Umbara langsung datang melayat ke rumah duka sebagai bentuk belasungkawa dan penghormatan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Tak hanya hadir untuk menyampaikan duka cita, Bao Umbara juga menunjukkan kepedulian lebih dengan turut mendampingi keluarga hingga prosesi pemakaman selesai. Bahkan, ia ikut mengantarkan langsung jenazah almarhum ke tempat peristirahatan terakhir.
Kehadiran orang nomor satu di Desa Karangsari dalam prosesi pemakaman itu menjadi simbol nyata kedekatan seorang pemimpin dengan jajaran perangkat desa dan masyarakatnya.
Di tengah suasana duka, Bao Umbara menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya almarhum Bapak Debleng.
“Kami atas nama pemerintah desa dan pribadi turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya. Almarhum adalah sosok orang tua kita semua. Semoga dedikasi dan amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT, serta keluarga yang ditinggalkan, khususnya Pak Sekdes, diberikan ketabahan,” ujar Bao Umbara di sela prosesi pemakaman.
Ucapan tersebut menjadi bentuk empati sekaligus penghormatan kepada almarhum yang semasa hidup dikenal sebagai sosok sepuh yang dihormati di lingkungan masyarakat.
Prosesi pemakaman berlangsung khidmat di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat. Jenazah almarhum Bapak Debleng dimakamkan dengan iringan doa dari keluarga, kerabat, warga, dan jajaran perangkat desa yang hadir.
Suasana haru begitu terasa saat keluarga, tetangga, dan perangkat desa mengantar almarhum menuju peristirahatan terakhir. Doa-doa dipanjatkan mengiringi kepergian almarhum agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Kehadiran Kepala Desa Karangsari hingga prosesi pemakaman selesai mendapat apresiasi dari warga. Sikap tersebut dinilai sebagai bentuk kepedulian nyata seorang pemimpin terhadap keluarga perangkat desa dan masyarakatnya.
Bagi warga Karangsari, kehadiran kepala desa dalam momen duka bukan sekadar formalitas, melainkan cerminan hubungan emosional antara pemimpin dan masyarakat yang terjalin dengan baik.
Momentum ini sekaligus memperlihatkan bahwa kepemimpinan di tingkat desa bukan hanya soal menjalankan roda pemerintahan, tetapi juga hadir dalam sisi kemanusiaan, baik dalam suasana suka maupun duka.
Sikap Bao Umbara yang mendampingi keluarga duka hingga ke pemakaman menjadi contoh sederhana namun bermakna tentang pentingnya empati dalam kepemimpinan.
Di tengah kesibukan tugas pemerintahan, kehadiran langsung kepala desa dalam momen duka seperti ini menjadi pesan kuat bahwa seorang pemimpin harus selalu dekat dengan masyarakat, tidak hanya saat kegiatan formal, tetapi juga dalam situasi penuh keprihatinan.
Kepergian almarhum Bapak Debleng meninggalkan duka mendalam, khususnya bagi keluarga besar Sekdes Karangsari. Namun di balik suasana kehilangan itu, hadirnya perhatian dan dukungan dari pemerintah desa menjadi penguat bagi keluarga yang ditinggalkan.
Semangat kebersamaan dan kepedulian yang ditunjukkan dalam prosesi pemakaman ini menjadi potret hangat hubungan sosial masyarakat Desa Karangsari yang tetap terjaga. (Wnd)










