PURWAKARTA, alexanews.id – Viral di media sosial, seorang guru SMAN 1 Purwakarta bernama Bu Atun menjadi sorotan publik setelah dirinya diduga mendapat perlakuan tidak pantas dari siswa saat mengajar di kelas. Peristiwa ini bahkan menarik perhatian Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang langsung menemui sang guru untuk mendengar cerita secara langsung.

Dalam pertemuan tersebut, Bu Atun mengungkapkan kesehariannya sebagai tenaga pendidik yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Karakter dan Moral (PKM). Ia menjelaskan bahwa pelajaran yang diajarkan tidak semata soal akademik, melainkan lebih kepada pembentukan karakter, perilaku, serta nilai kehidupan siswa.

Menurut Bu Atun, pendidikan karakter sejatinya tidak hanya terbentuk di sekolah, melainkan juga dipengaruhi oleh lingkungan masing-masing siswa. Ia meyakini bahwa kesadaran akan perubahan perilaku biasanya muncul ketika seseorang mengalami momen tertentu yang menggugah dirinya.

Dalam dialog yang berlangsung santai, Dedi Mulyadi juga sempat menanyakan kehidupan pribadi Bu Atun. Guru tersebut mengaku belum menikah dan sepenuhnya mendedikasikan waktunya untuk mengajar serta membimbing siswa. Baginya, para siswa di kelas sudah seperti anak sendiri yang perlu diarahkan dengan penuh kesabaran.

Bu Atun menggambarkan kondisi siswa di kelasnya sangat beragam. Ada yang menunjukkan prestasi baik, namun tidak sedikit pula yang membutuhkan perhatian khusus. Ia mengaku sering memanggil siswa yang bermasalah untuk diajak berdiskusi secara personal.

Pendekatan tersebut, menurutnya, cukup efektif. Beberapa siswa bahkan menunjukkan perubahan sikap setelah mendapatkan pembinaan. Mereka mulai menyadari kesalahan dan berterima kasih karena telah diingatkan.

“Memang ada masa-masa sulit dalam menghadapi siswa, tetapi itu justru menjadi tantangan bagi saya sebagai guru,” ungkapnya, Rabu 22 April 2026.

Ia menegaskan bahwa sebagai pendidik, dirinya memiliki tanggung jawab moral yang besar, tidak hanya kepada siswa, tetapi juga kepada orang tua dan masyarakat. Karena itu, ia selalu berusaha memberikan pendidikan yang menyentuh tiga aspek utama, yakni kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional.

Dalam praktiknya, Bu Atun lebih mengutamakan pembentukan kecerdasan spiritual. Ia menanamkan nilai keimanan dan akhlak kepada siswa sebagai fondasi utama. Setelah itu, barulah aspek emosional dan intelektual dikembangkan secara seimbang.

Namun, kejadian tidak menyenangkan terjadi saat dirinya sedang mengajar materi tentang keberagaman. Tanpa disadari, ada tindakan tidak pantas yang dilakukan oleh siswa di belakangnya dan kemudian viral di media sosial.

Bu Atun mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut saat berlangsung. Ia baru menyadarinya setelah video atau foto tersebut tersebar luas dan menjadi perbincangan publik.

Menanggapi hal itu, Dedi Mulyadi sempat menanyakan apakah Bu Atun akan membawa kasus tersebut ke ranah hukum. Namun, jawaban sang guru justru mengundang simpati.

Ia memilih untuk memaafkan siswa yang bersangkutan. Menurutnya, masa depan generasi muda masih panjang dan mereka masih memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

“Anak-anak itu masih punya waktu untuk memperbaiki diri. Yang penting mereka sadar bahwa apa yang dilakukan itu salah,” ujarnya.

Bu Atun menegaskan bahwa ia tidak ingin memperpanjang masalah tersebut. Ia lebih memilih mendoakan agar siswa tersebut mendapat hidayah dan menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.

Namun, ia juga menekankan bahwa tindakan yang dilakukan tetaplah keliru dan harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak, terutama dalam menghormati guru sebagai pendidik.

Sikap lapang dada Bu Atun tersebut mendapat apresiasi dari Dedi Mulyadi. Ia menilai keputusan untuk memaafkan merupakan langkah bijak yang menunjukkan ketulusan seorang guru dalam mendidik.

Dalam kesempatan itu, Dedi Mulyadi juga memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp25 juta sebagai bentuk apresiasi terhadap dedikasi Bu Atun.

Namun, respons Bu Atun kembali membuat banyak pihak tersentuh. Ia justru berniat menyumbangkan seluruh bantuan tersebut kepada yayasan yatim piatu.

Ia menyampaikan bahwa niat baik yang diterimanya ingin diteruskan kepada pihak lain yang lebih membutuhkan. Baginya, kebahagiaan terbesar adalah ketika bisa berbagi dan mendapatkan ridha dari Tuhan.

“Saya ingin niat baik ini menjadi amal yang berlipat. Semoga membawa keberkahan,” tuturnya.

Selain bantuan tersebut, perhatian juga diberikan terhadap fasilitas sekolah. Ruang kelas tempat Bu Atun mengajar kini dilengkapi dengan pendingin udara baru agar proses belajar mengajar menjadi lebih nyaman. (Ega Nugraha)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.