KARAWANG, alexanews.id – Tumpukan eceng gondok yang memenuhi Saluran Sekunder (SS) Kertarahayu, Kecamatan Cibuaya, Karawang, kembali memicu sorotan. Persoalan yang tak kunjung tuntas ini kini memantik ultimatum keras dari Pemerintah Desa Kertarahayu kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum dan Perum Jasa Tirta (PJT) II.

Sekretaris Desa Kertarahayu, Asep Wahyudin, meminta dua institusi pengelola sumber daya air itu berhenti mendorong sampah eceng gondok ke wilayah hilir tanpa pengangkatan menyeluruh.

Menurut Asep, langkah normalisasi menggunakan excavator yang dilakukan pada Kamis 1 Mei 2026 hanya menjadi solusi sementara. Pembersihan yang hanya difokuskan pada titik penyumbatan di hilir dinilai tidak akan menyelesaikan akar persoalan.

“Normalisasi dengan excavator hari ini hanya mengatasi penyumbatan di hilir. Jika tidak ada penanganan di hulu dan pengangkatan rutin, dalam 2-3 minggu saluran akan kembali tertutup,” kata Asep, Jumat (1/5/2026).

Ia menilai pola penanganan yang dilakukan selama ini masih setengah hati. Eceng gondok yang menumpuk di wilayah hulu hanya didorong ke bawah tanpa diangkat secara menyeluruh. Akibatnya, gulma air itu terus bergerak mengikuti arus dan kembali menyumbat saluran di wilayah hilir.

Kondisi tersebut, kata dia, sudah terjadi berulang kali dan terus menjadi ancaman bagi aliran irigasi pertanian di wilayah Kertarahayu dan sekitarnya.

Asep menyebut, saat ini tumpukan eceng gondok tidak hanya berada di satu titik. Gulma air itu sudah memanjang dari wilayah Gempol hingga Desa Kertamulya. Namun hingga kini, belum terlihat langkah komprehensif untuk mengangkat tumpukan eceng gondok dari jalur hulu.

“Sekarang saja dari Gempol sampai Desa Kertamulya banyak eceng. Tapi belum ada tindakan. Kami Pemdes Kertarahayu memohon agar jangan sampai sampah eceng terus dialirkan ke irigasi. Harusnya diangkat juga, bukan cuma didorong,” ujarnya.

Pemerintah Desa Kertarahayu menilai, persoalan ini bukan lagi sekadar gangguan teknis saluran air. Jika dibiarkan, dampaknya akan langsung mengganggu ketahanan pangan warga, terutama petani yang bergantung penuh pada aliran irigasi.

Asep menegaskan, ancaman terbesar saat ini adalah potensi terganggunya musim tanam kedua. Sedikitnya 800 hektare lahan persawahan di wilayah Kertarahayu terancam gagal tanam bila pasokan air terus tersendat akibat saluran tersumbat eceng gondok.

“Kami khawatir 800 hektare sawah terancam gagal tanam kedua kalau air tidak lancar. Desa sudah swadaya, tapi ini butuh alat berat dan kewenangan balai besar,” tegasnya.

Menurut dia, upaya swadaya masyarakat dan pemerintah desa sejatinya sudah dilakukan. Namun kemampuan desa sangat terbatas. Penanganan eceng gondok dalam volume besar membutuhkan alat berat, armada pengangkut, dan koordinasi lintas wilayah yang menjadi kewenangan instansi besar seperti BBWS Citarum dan PJT II.

Karena itu, Pemdes Kertarahayu melayangkan tiga tuntutan utama kepada instansi terkait agar persoalan ini tidak terus berulang.

Pertama, BBWS Citarum dan PJT II diminta segera melakukan pengangkatan eceng gondok di wilayah hulu, terutama di ruas Gempol hingga Kertamulya yang disebut menjadi sumber utama kiriman gulma ke hilir.

Kedua, Dinas PUPR Karawang diminta menyusun jadwal rutin pembersihan saluran irigasi agar penanganan tidak lagi bersifat insidental dan menunggu saluran benar-benar tersumbat.

Ketiga, diperlukan koordinasi lintas kecamatan untuk mencegah pembuangan sampah dan eceng gondok ke saluran irigasi yang selama ini memperparah kondisi aliran air.

Asep menilai, tanpa langkah terintegrasi dari seluruh pihak, persoalan eceng gondok hanya akan berpindah titik dan terus menjadi siklus tahunan yang merugikan petani.

“Untuk semua dinas yang berwenang seperti BBWS Citarum, PJT II, dan bersama para Camat, harus ada langkah nyata. Jangan sampai ke depannya sampah eceng gondok terus-menerus mengalir ke aliran Kertarahayu,” tandasnya.

Sementara itu, Camat Pedes, Romli, membenarkan bahwa koordinasi lintas instansi sebenarnya sudah dilakukan sejak dua pekan terakhir. Pemerintah kecamatan, kata dia, telah berkomunikasi dengan Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Karawang untuk mempercepat penanganan.

“Kita dari 2 minggu kemarin sudah koordinasi dengan pihak SDA PUPR. InsyaAllah secepatnya eceng dimulai dari wilayah Malangsari sampai Kertamulya akan diangkat oleh alat berat. Dan kita juga sudah bersurat,” kata Romli.

Pernyataan itu memberi sedikit harapan bagi petani yang selama ini menanti langkah konkret. Namun warga tetap menunggu realisasi di lapangan, mengingat persoalan serupa sudah berulang kali terjadi tanpa penyelesaian tuntas.

Hingga berita ini diturunkan, pihak BBWS Citarum dan PJT II belum memberikan tanggapan resmi terkait ultimatum Pemerintah Desa Kertarahayu maupun tuntutan pengangkatan eceng gondok dari wilayah hulu.

Jika tidak segera ditangani secara menyeluruh, tumpukan eceng gondok di jalur irigasi Karawang dikhawatirkan bukan hanya menghambat aliran air, tetapi juga mengancam produktivitas pertanian di salah satu lumbung pangan Jawa Barat. (Ahmad Saleh)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.