CIREBON, alexanews.id – Di tengah padatnya aktivitas dan cuaca panas khas wilayah pesisir, Kawasan Bima tetap menjadi salah satu ruang publik paling nyaman dan favorit bagi warga Kota Cirebon. Kawasan yang berada di sekitar Stadion Bima ini bukan hanya dikenal sebagai pusat olahraga, tetapi juga menjadi tempat berkumpul masyarakat dari berbagai kalangan.

Keberadaan tugu merah bertuliskan “STADION BIMA” yang berdiri kokoh di atas pondasi batu alam seolah menjadi penanda bahwa kawasan tersebut memiliki nilai historis dan sosial yang kuat bagi masyarakat Kota Udang.

Saat memasuki area ini, pengunjung akan disambut gapura bata merah dengan nuansa arsitektur khas Cirebonan. Tidak jauh dari pintu masuk, papan jalan bertuliskan Jalan Stadion Bima lengkap dengan aksara lokal menambah identitas budaya yang begitu terasa.

Kawasan Bima selama ini dikenal sebagai salah satu ruang terbuka publik yang masih mampu menghadirkan kesejukan alami di tengah perkembangan kota. Hal itu menjadi semakin penting mengingat capaian Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Cirebon berdasarkan audit tahun 2024 baru berada di angka 9,4 persen.

Meski demikian, Kawasan Bima tetap berhasil menjalankan fungsi ekologis sekaligus sosial bagi masyarakat.

Salah satu daya tarik utama kawasan ini adalah keberadaan pepohonan rindang yang tumbuh di sepanjang jalan area stadion. Pohon-pohon besar tersebut menciptakan koridor hijau yang membuat suasana terasa lebih teduh meski matahari sedang terik.

Tak sedikit warga memilih berjalan kaki, berolahraga ringan, hingga sekadar duduk santai menikmati semilir angin di bawah pepohonan.

Selain menghadirkan kesejukan alami, Kawasan Bima juga memiliki area terbuka yang luas sehingga mampu menampung beragam aktivitas masyarakat.

Pada pagi dan sore hari, kawasan ini ramai oleh komunitas olahraga seperti jogging, bersepeda, hingga senam bersama. Sementara di beberapa sudut lainnya, terlihat mahasiswa dan anak muda berkumpul untuk berdiskusi maupun bersantai.

Suasana yang terbuka dan nyaman membuat kawasan ini terasa hidup hampir sepanjang hari. Meski ramai pengunjung, nuansa adem dan asri tetap terasa kuat.

Tidak hanya itu, keberadaan pedagang kaki lima dan penjual jajanan murah meriah turut menjadi daya tarik tersendiri. Aneka makanan ringan hingga minuman segar tersedia dengan harga terjangkau sehingga membuat Kawasan Bima semakin diminati warga.

Banyak pengunjung menganggap kawasan ini sebagai tempat nongkrong paling ramah kantong di Kota Cirebon.

“Bima itu paket lengkap. Tempatnya luas, udaranya masih segar, dan jajanannya murah,” ujar Suwandi, salah seorang mahasiswa yang rutin menghabiskan waktu sore di kawasan tersebut, Kamis 7 Mei 2026.

Menurutnya, Kawasan Bima menjadi pilihan terbaik untuk melepas penat tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

Keberhasilan Kawasan Bima dalam memadukan unsur lingkungan, sosial, dan ekonomi kini menjadi perhatian tersendiri. Pemerintah Kota Cirebon pun terus berupaya meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau agar target RTH sebesar 30 persen sesuai amanat undang-undang bisa tercapai.

Berbagai langkah penataan mulai dilakukan, seperti pengembangan Taman Pataraksa hingga normalisasi sungai di sejumlah titik kota. Upaya tersebut diharapkan mampu menambah area hijau sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan.

Kawasan Bima dinilai bisa menjadi contoh ideal pengembangan ruang publik di perkotaan. Kehadiran ruang terbuka yang nyaman bukan hanya penting untuk menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga memperkuat interaksi sosial masyarakat.

Jika konsep penataan seperti di Kawasan Bima terus diperluas ke berbagai wilayah lain di Kota Cirebon, bukan tidak mungkin impian menghadirkan kota hijau dan nyaman benar-benar dapat terwujud.

Bagi warga, Kawasan Bima bukan sekadar area stadion atau tempat olahraga. Lebih dari itu, kawasan ini telah menjadi simbol ruang hidup bersama yang menghadirkan kesejukan, kebersamaan, dan wajah humanis Kota Cirebon di tengah hiruk pikuk perkotaan. (Kirno)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.