KARAWANG, alexanews.id – Pekerjaan normalisasi Saluran Sekunder (SS) Cibuaya yang selama ini dinanti petani di Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, mendadak terhenti. Alat berat excavator yang diterjunkan untuk membersihkan saluran irigasi dilaporkan mangkrak selama empat hari terakhir.
Kondisi itu langsung memicu kekhawatiran petani. Pasalnya, normalisasi saluran menjadi kebutuhan mendesak agar aliran air ke areal persawahan tetap lancar menjelang masa tanam.
Terhentinya pekerjaan tersebut pun menuai kritik dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laskar NKRI Kecamatan Cibuaya. Mereka menilai penghentian operasional alat berat tanpa solusi cepat berpotensi mengganggu produktivitas pertanian dan mengancam petani gagal tanam.
Normalisasi SS Kertarahayu dan SS Cibuaya sebelumnya dikerjakan oleh Dinas PUPR Karawang bersama BBWS Citarum PJT II Rengasdengklok dengan dukungan Muspika Kecamatan Cibuaya. Program ini diharapkan mampu mengatasi persoalan klasik yang selama ini menghantui petani, mulai dari tumpukan eceng gondok, sampah, hingga pendangkalan lumpur yang menghambat aliran air.
Namun harapan petani kini kembali diuji. Sejak empat hari terakhir, excavator yang berada di titik pekerjaan Desa Kertarahayu dilaporkan tidak beroperasi.
Seorang warga sekitar yang enggan disebutkan namanya mengaku heran melihat alat berat yang terparkir tanpa aktivitas.
“Padahal petani sangat membutuhkan normalisasi agar saluran irigasi tidak tersumbat sampah eceng gondok dan pendangkalan lumpur,” ujarnya, Sabtu 3 Mei 2026.
Menurut warga, saluran irigasi di wilayah tersebut memegang peranan vital bagi petani. Jika aliran air terganggu terlalu lama, sawah terancam kekurangan pasokan air dan berdampak langsung pada musim tanam.
Ketua DPC LSM Laskar NKRI Kecamatan Cibuaya, Isma, mengatakan pihaknya menerima banyak keluhan dari masyarakat terkait mandeknya pekerjaan normalisasi tersebut.
Ia menegaskan, persoalan ini bukan sekadar soal alat berat berhenti bekerja, tetapi menyangkut kebutuhan dasar petani yang menggantungkan hidup dari hasil sawah.
“Kami melihat dan mendengar langsung keluhan masyarakat, khususnya di SS Kertarahayu. Normalisasi ini kebutuhan mendesak. Kenapa tidak ditindaklanjuti sampai tuntas?” tegas Isma.
Menurutnya, pemerintah dan instansi terkait seharusnya memiliki langkah antisipasi agar pekerjaan strategis seperti normalisasi irigasi tidak berhenti hanya karena kendala teknis atau personal.
Isma menilai, jika memang operator excavator berhalangan hadir, maka instansi terkait seharusnya segera menyiapkan pengganti agar pekerjaan tetap berjalan.
Ia menyebut informasi yang beredar di lapangan menyatakan operator excavator tidak masuk kerja karena ada urusan keluarga. Namun menurutnya, alasan tersebut tidak bisa dijadikan pembenar untuk menghentikan pekerjaan selama berhari-hari tanpa kepastian.
“Kami berharap instansi pusat bisa segera menggantikan dengan operator lain. Jangan sampai pekerjaan normalisasi di Desa Kertarahayu terhambat hanya karena satu orang. Ini menyangkut hajat hidup petani,” katanya.
Kritik tersebut bukan tanpa alasan. Bagi petani di Cibuaya, kelancaran air irigasi merupakan penentu utama keberhasilan musim tanam. Ketika saluran tersumbat dan pendangkalan tak segera ditangani, distribusi air ke lahan pertanian otomatis terganggu.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, petani tidak hanya terancam mengalami keterlambatan tanam, tetapi juga berisiko merugi akibat hasil panen menurun.
Di sisi lain, Dinas PUPR Karawang membenarkan adanya penghentian sementara operasional alat berat di lokasi normalisasi.
Ketua Workshop Alat Berat Excavator Dinas PUPR Karawang, Munajat, mengatakan operator excavator yang bertugas di Kertarahayu sedang berhalangan karena keluarga dekatnya meninggal dunia.
“Betul kang, operator excavator yang di Kertarahayu keluarganya atau ninanya meninggal dunia. Yang bersangkutan izin. Terus dilanjut sekarang hari buruh tanggal merah sampai hari Minggu. Paling mulai lagi Senin,” jelas Munajat.
Penjelasan tersebut sekaligus mengonfirmasi bahwa penghentian pekerjaan bukan karena kerusakan alat, melainkan absennya operator yang kemudian bertepatan dengan libur nasional dan akhir pekan.
Meski demikian, penjelasan itu belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran warga. Masyarakat tetap mempertanyakan mengapa tidak ada operator pengganti yang disiapkan, mengingat pekerjaan normalisasi saluran irigasi merupakan kebutuhan mendesak bagi petani.
Sejumlah petani berharap pekerjaan bisa segera kembali dilanjutkan pada Senin mendatang, sesuai penjelasan Dinas PUPR Karawang.
Mereka khawatir jika pekerjaan molor lebih lama, dampaknya akan semakin besar terhadap pola tanam dan pasokan air ke sawah.
Hingga berita ini diturunkan, pihak BBWS Citarum PJT II Rengasdengklok belum memberikan keterangan resmi terkait penghentian sementara normalisasi SS Cibuaya maupun langkah percepatan yang akan diambil.
Kondisi ini membuat sorotan publik mengarah pada koordinasi antarinstansi dalam penanganan infrastruktur irigasi yang menjadi urat nadi pertanian di Karawang.
Bagi petani Cibuaya, persoalan ini bukan semata soal alat berat yang berhenti bekerja. Ini soal waktu tanam, hasil panen, dan keberlangsungan hidup yang bergantung pada lancarnya aliran air di sawah mereka. (Ahmad Saleh)










