CIREBON, alexanews.id – Industri musik Kabupaten Cirebon kembali menorehkan kabar membanggakan. Seorang putra daerah asal Desa Kaliwulu, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, berhasil membuktikan bahwa karya dari kampung pun mampu bersaing di panggung internasional.
Dia adalah Robi Kusinar, penyanyi sekaligus pencipta lagu yang kini namanya mulai diperhitungkan di industri musik digital. Lewat karya-karya yang dirilis melalui kanal YouTube RK Entertainment, Robi sukses membawa musik ciptaannya menembus pasar mancanegara dan mendapat sambutan hangat dari pendengar di berbagai negara.
Capaian ini menjadi kebanggaan tersendiri, bukan hanya bagi Robi, tetapi juga bagi dunia musik Kabupaten Cirebon yang kembali menunjukkan potensinya di tengah persaingan industri hiburan digital yang semakin ketat.
Robi Kusinar bukan nama baru di dunia musik independen. Namun dalam dua tahun terakhir, namanya semakin mencuri perhatian setelah sejumlah lagu ciptaannya mencatat performa impresif di platform digital.
Melalui distribusi musik berbasis digital seperti YouTube, Spotify, dan Joox, karya-karya Robi tidak hanya beredar di Indonesia, tetapi juga menjangkau pasar internasional yang lebih luas. Spotify masih menjadi platform audio paling dominan secara global, sementara YouTube dan Joox tetap menjadi jalur distribusi penting bagi musisi independen untuk menjangkau audiens lintas negara.
Beberapa lagu milik Robi bahkan berhasil mencatat capaian yang cukup signifikan di luar negeri. Lagu berjudul Dinda menjadi salah satu karya yang paling menonjol karena berhasil menembus pasar Malaysia, Pakistan, hingga Italia.
Tak hanya itu, lagu Gundah juga menunjukkan performa kuat dengan jumlah pendengar yang telah menembus lebih dari satu juta. Lagu ini mendapat basis pendengar yang solid, terutama dari India dan Malaysia.
Sementara itu, single Tak Akan Ku Sesali yang dibalut dengan nuansa dangdut juga mendapat respons positif, khususnya dari pendengar di Malaysia yang dikenal memiliki kedekatan kultur musik dengan Indonesia.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa musik lokal dengan sentuhan emosional yang kuat tetap memiliki tempat di pasar global, terlebih ketika dikemas dengan strategi distribusi digital yang tepat.
Sejak 2024 hingga 2026, Robi Kusinar tercatat konsisten melahirkan karya baru. Produktivitasnya di industri musik menjadi salah satu faktor utama yang membuat namanya terus tumbuh di tengah persaingan.
Salah satu karya yang ikut memperkuat eksistensinya adalah Memori Bandar Seri Begawan, lagu yang kembali mempertegas kemampuan Robi dalam meramu lirik emosional dengan aransemen yang mudah diterima pendengar.
Tidak hanya dikenal sebagai solois, Robi juga dikenal memiliki tangan dingin dalam menciptakan lagu untuk penyanyi lain. Salah satu karya populernya di jalur musik Pantura adalah lagu Tarling berjudul Gara-Gara Mertua, yang ikut memperluas spektrum musikalitasnya.
Artinya, Robi bukan hanya piawai membangun identitas sebagai penyanyi, tetapi juga berhasil menempatkan diri sebagai pencipta lagu yang fleksibel lintas genre.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang kini mulai merambah industri kreatif, Robi memilih tetap berpijak pada kekuatan utama seorang seniman: rasa dan imajinasi.
Bagi Robi, teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi karya yang lahir dari perasaan tetap memiliki nilai yang tidak bisa digantikan mesin.
“Dalam membuat lagu, saya selalu mengutamakan hati dan imajinasi. Prosesnya dimulai dari ide, kemudian diaransemen di dapur rekaman,” ujar Robi Kusinar saat diwawancarai awak media, Minggu (3/5).
Pernyataan itu menegaskan satu hal penting: di tengah era digital, orisinalitas tetap menjadi aset paling berharga bagi seorang kreator.
Robi menyadari bahwa membuat lagu bukan sekadar menyusun nada dan lirik. Ada pengalaman, emosi, dan intuisi yang ikut membentuk karakter sebuah karya. Itulah yang menurutnya menjadi pembeda utama antara karya manusia dan hasil generatif mesin.
Dalam proses kreatifnya, Robi memulai dari ide mentah, lalu mengolahnya menjadi komposisi utuh di studio rekaman. Setelah itu, karya akan diunggah ke YouTube sebagai bagian dari strategi distribusi awal.
Langkah berikutnya yang tak kalah penting adalah pengurusan hak cipta. Robi memastikan setiap karya yang diproduksi mendapat perlindungan hukum sebelum dirilis secara luas ke berbagai platform musik digital global.
Strategi ini menunjukkan bahwa keberhasilan di industri musik modern tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas. Musisi juga harus paham soal distribusi, branding, hingga perlindungan kekayaan intelektual.
Kesadaran inilah yang membuat Robi mampu bergerak lebih matang sebagai musisi independen.
Meski telah meraih capaian membanggakan di pasar internasional, Robi Kusinar tidak ingin berhenti pada pencapaian pribadi.
Ia justru menyiapkan langkah yang lebih besar untuk membangun ekosistem musik yang sehat di tanah kelahirannya. Dalam waktu dekat, Robi berencana meresmikan RK Entertainment secara formal sebagai wadah kreatif bagi musisi lokal.
RK Entertainment diproyeksikan menjadi ruang tumbuh bagi talenta-talenta muda asal Cirebon yang ingin serius meniti karier di industri musik.
Bukan sekadar label, wadah ini diharapkan menjadi inkubator kreatif yang mampu menjembatani musisi lokal agar lebih siap bersaing secara profesional, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Langkah ini menjadi penting karena banyak musisi daerah memiliki potensi besar, tetapi kerap terbentur akses, distribusi, dan pendampingan industri.
Robi ingin pengalaman yang ia bangun selama ini bisa menjadi jalan bagi musisi lain untuk berkembang lebih cepat.
Kisah Robi Kusinar menjadi bukti bahwa musisi dari desa tidak boleh dipandang sebelah mata.
Dari Desa Kaliwulu, Kabupaten Cirebon, Robi membuktikan bahwa konsistensi, keberanian berkarya, dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital bisa membuka jalan menuju panggung dunia.
Di tengah dominasi industri besar dan derasnya arus konten global, Robi hadir membawa pesan sederhana namun kuat: karya yang jujur akan selalu menemukan jalannya sendiri. (Kirno)










