KARAWANG, alexanews.id – Pengelolaan Dana Desa untuk program ketahanan pangan di Desa Kalidungjaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang, menjadi sorotan setelah ratusan juta rupiah anggaran yang digelontorkan dilaporkan mengalami penyusutan aset dan kerugian di berbagai sektor usaha.

Program yang dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kalidungjaya itu sejatinya diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa melalui pengembangan peternakan dan pertanian. Namun dalam pelaksanaannya, sejumlah usaha yang dijalankan justru mengalami kemunduran.

Direktur Utama BUMDes Kalidungjaya, Nurdiansyah, secara terbuka mengakui kondisi tersebut. Ia menjelaskan bahwa hampir seluruh lini usaha yang dijalankan mengalami kendala serius, mulai dari peternakan domba, ternak entog, hingga pengelolaan lahan persawahan.

Menurut Nurdiansyah, salah satu sektor yang mengalami kerugian cukup besar adalah peternakan domba. Dari total anggaran Rp65 juta yang digunakan untuk membeli 33 ekor indukan domba, kini jumlah ternak yang tersisa hanya 26 ekor.

“Dari awal 33 ekor, sekarang sisa 26 ekor domba. Tinggal cek fisiknya langsung di lokasi. Memang ada yang mati, kemarin ada tujuh ekor berkurang,” ujar Nurdiansyah saat menjelaskan kondisi terkini usaha peternakan tersebut.

Ia mengatakan, selain peternakan domba, BUMDes juga mengembangkan usaha ternak entog dan pengelolaan lahan sawah. Namun kedua sektor tersebut juga belum memberikan hasil sesuai harapan.

Untuk usaha peternakan entog, BUMDes mengalokasikan dana sekitar Rp3 juta untuk pengadaan 30 ekor. Akan tetapi jumlah ternak terus berkurang dan tidak berkembang secara maksimal.

Sementara di sektor pertanian, BUMDes sebelumnya mengelola lahan sawah seluas dua hektare dengan biaya sewa mencapai Rp24 juta per musim tanam. Namun akibat berbagai kendala, kini pengelolaan lahan menyusut menjadi hanya satu hektare.

Total dana yang diterima BUMDes Kalidungjaya sendiri mencapai Rp147 juta yang disalurkan dalam dua tahap. Dari jumlah tersebut, tahap kedua tercatat sebesar Rp49,5 juta.

Nurdiansyah mengungkapkan bahwa salah satu faktor utama penyebab kerugian adalah bencana banjir yang melanda wilayah Kalidungjaya selama hampir dua bulan.

Ia menyebut kondisi tersebut membuat lahan pertanian gagal panen dan berdampak buruk terhadap kesehatan hewan ternak. Lingkungan yang lembab dan kondisi pakan yang terganggu memicu berbagai penyakit pada ternak.

“Memang berat tantangannya. Kemarin banjir hampir dua bulan, sawah gagal panen, ternak pun banyak yang kena penyakit,” katanya.

Menurut pengakuannya, pihak BUMDes bahkan telah berkonsultasi dengan dokter hewan terkait tingginya angka kematian ternak yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

“Saya sudah konsultasi ke dokter hewan, katanya kematian itu dipicu faktor pakan dan lingkungan yang terlalu lembab terus-menerus,” ungkapnya.

Meski menghadapi berbagai persoalan, pihak BUMDes berharap kondisi ke depan dapat membaik. Nurdiansyah mengaku kini hanya berharap musim panen berikutnya berjalan lancar dan wilayah tersebut tidak lagi diterjang banjir.

“Sekarang kita hanya bisa minta doa, mudah-mudahan panen kali ini aman, tidak ada banjir lagi, dan bisa menutupi kerugian-kerugian kemarin,” tuturnya.

Kondisi ini memunculkan perhatian publik terkait efektivitas pengelolaan dana ketahanan pangan desa yang bersumber dari Dana Desa. Sebab hingga saat ini, manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat disebut belum terlihat signifikan.

Selain itu, penyusutan aset dan tidak berkembangnya usaha yang dijalankan juga menjadi catatan penting bagi pemerintah desa maupun pihak terkait agar evaluasi pengelolaan anggaran dapat dilakukan lebih maksimal.

Program ketahanan pangan desa sendiri merupakan salah satu prioritas penggunaan Dana Desa yang diarahkan pemerintah pusat untuk memperkuat sektor pangan masyarakat sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi di tingkat desa.

Namun dalam praktiknya, sejumlah faktor seperti bencana alam, lemahnya manajemen usaha, risiko penyakit ternak, hingga perubahan cuaca ekstrem kerap menjadi tantangan besar dalam pelaksanaannya.

Kasus yang terjadi di Kalidungjaya pun menjadi gambaran bahwa pengelolaan dana desa di sektor produktif membutuhkan pengawasan, pendampingan, serta mitigasi risiko yang matang agar anggaran yang digelontorkan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Karawang sendiri dalam beberapa tahun terakhir memang kerap mengalami banjir di sejumlah wilayah pesisir utara, termasuk Kecamatan Cibuaya. Kondisi tersebut berdampak terhadap aktivitas pertanian masyarakat yang sebagian besar menggantungkan hidup dari sektor sawah dan peternakan.

Kini masyarakat berharap program ketahanan pangan yang dijalankan BUMDes Kalidungjaya dapat kembali bangkit dan memberikan hasil nyata, sehingga dana desa yang telah digelontorkan tidak berakhir sia-sia. (Ahmad Saleh)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.