CIREBON, alexanews.id – Ancaman kekeringan mulai membayangi sektor pertanian di Desa Suranenggala, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon. Ratusan hektare lahan persawahan yang sedang memasuki masa pertumbuhan tanaman kini menghadapi persoalan ketimpangan distribusi air yang berpotensi mengganggu hasil panen.
Berdasarkan kondisi di lapangan, tidak seluruh wilayah pertanian di desa tersebut mengalami situasi yang sama. Sebagian area masih mendapatkan pasokan air yang cukup, sementara wilayah lainnya mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan air yang dapat berdampak serius terhadap produktivitas pertanian.
Di Blok Jaba Wetan, lahan pertanian seluas 113 hektare dengan usia tanaman padi rata-rata sekitar 1,5 bulan masih berada dalam kondisi relatif aman. Pasokan air untuk kebutuhan irigasi di kawasan tersebut dinilai masih mencukupi sehingga aktivitas pertanian dapat berjalan normal.
Namun kondisi berbeda terjadi di Blok Jaba Kulon. Kawasan pertanian seluas 98,05 hektare itu mulai menghadapi ancaman kekurangan air. Sebagian tanaman padi baru berusia sekitar 15 hari setelah tanam, bahkan ada sejumlah lahan yang belum sempat ditanami karena keterbatasan pasokan air untuk kebutuhan pengolahan lahan dan irigasi.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran di kalangan petani. Jika suplai air tidak segera ditingkatkan, tanaman yang masih berada pada fase awal pertumbuhan berisiko mengalami gangguan perkembangan hingga berujung pada gagal panen.
Raksa Bumi atau aparatur desa yang membidangi urusan pengairan Desa Suranenggala, Astika, mengatakan pihaknya berharap ada langkah cepat dari instansi terkait untuk membantu memenuhi kebutuhan air para petani.
Menurutnya, penambahan debit air dari pintu AW 10 dan AW 13 menuju Kali Winong menjadi salah satu solusi yang sangat dibutuhkan saat ini. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian yang mulai mengalami kekeringan.
“Kami berharap ada penambahan debit suplai air dari pintu AW 10 dan AW 13 yang dialirkan ke arah Kali Winong. Ini sangat penting agar petani tidak mengalami kekurangan air dan dapat meminimalisasi risiko gagal panen, terutama karena usia tanaman saat ini berada pada fase kritis sekitar 15 hingga 35 hari setelah tanam,” ujar Astika, Sabtu (12/7/2026).
Ia menambahkan, masa pertumbuhan tanaman pada usia tersebut membutuhkan pasokan air yang cukup dan stabil. Apabila kebutuhan air tidak terpenuhi, pertumbuhan tanaman padi dapat terganggu dan berdampak pada hasil panen yang menurun.
Pemerintah desa juga berharap Balai Besar Wilayah Cimanuk Cisanggarung (BBWSC) selaku otoritas yang mengelola sumber daya air dapat memberikan perhatian khusus terhadap kondisi yang terjadi di Suranenggala. Selain penambahan debit air, evaluasi terhadap sistem distribusi dan infrastruktur pengairan dinilai perlu dilakukan agar pasokan air dapat menjangkau seluruh area pertanian secara merata.
Harapan para petani kini tertuju pada adanya respons cepat dari pihak terkait. Ketersediaan air yang memadai menjadi faktor utama dalam menjaga keberhasilan musim tanam sekaligus memastikan produksi pertanian tetap optimal.
Jika kebutuhan air dapat terpenuhi dalam waktu dekat, petani optimistis tanaman padi yang saat ini sedang tumbuh dapat berkembang dengan baik hingga masa panen. Sebaliknya, keterlambatan penanganan dikhawatirkan akan memperbesar risiko kerugian yang harus ditanggung para petani.
Dengan kondisi cuaca yang semakin tidak menentu, dukungan pengelolaan air yang efektif menjadi kebutuhan mendesak bagi sektor pertanian di Desa Suranenggala. Para petani berharap upaya tersebut dapat menjaga produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup dari hasil sawah. (Kirno)










