KARAWANG, alexanews.id – Kemacetan panjang yang terjadi hampir setiap hari di Jalan Rengasdengklok Utara, Kabupaten Karawang, dikeluhkan para pengguna jalan. Aktivitas pengerukan saluran Kali Apur yang saat ini masih berlangsung diduga menjadi salah satu penyebab utama tersendatnya arus lalu lintas, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Senin, 27 Juli 2026, antrean kendaraan terlihat mengular di sejumlah titik sekitar lokasi pengerukan. Kondisi tersebut diperparah dengan keluar masuknya truk pengangkut tanah yang terlibat dalam pekerjaan proyek normalisasi saluran.
Sejumlah kendaraan proyek terlihat berhenti maupun berjejer di badan jalan saat menunggu giliran masuk dan keluar area pengerukan. Akibatnya, ruang jalan yang dapat digunakan oleh kendaraan umum menjadi semakin sempit sehingga arus lalu lintas bergerak lambat.
Bahkan dalam beberapa kesempatan, kemacetan dilaporkan terjadi hingga puluhan menit dan menyebabkan kendaraan nyaris tidak bergerak.
Kemacetan tersebut tidak hanya dirasakan warga yang tinggal di sekitar lokasi proyek, tetapi juga para pengendara yang melintas dari wilayah pesisir utara menuju Kecamatan Rengasdengklok maupun arah sebaliknya.
Banyak pengguna jalan mengaku waktu tempuh perjalanan mereka menjadi jauh lebih lama dibandingkan biasanya. Kondisi itu dinilai mengganggu aktivitas harian, terutama bagi masyarakat yang bekerja dan mengandalkan jalur tersebut sebagai akses utama.
Sejumlah pengendara menilai kemacetan yang terus berulang terjadi karena belum optimalnya pengaturan lalu lintas di sekitar area proyek. Mereka mengaku belum melihat adanya petugas khusus yang mengatur mobilitas kendaraan proyek agar tidak menghambat arus kendaraan umum.
Salah seorang sopir mobil pengangkut timun bernama Anim mengaku hampir setiap hari harus menghadapi kemacetan di lokasi tersebut.
Menurutnya, antrean kendaraan sering kali membuat perjalanan menjadi tidak efisien dan berdampak pada pekerjaan yang dijalankannya.
“Macetnya bisa sampai lebih dari setengah jam. Hampir setiap hari kami mengalami kondisi seperti ini. Tentu sangat menghambat pekerjaan karena barang yang kami bawa harus segera sampai ke tujuan,” ujarnya.
Anim berharap pihak yang bertanggung jawab terhadap kegiatan pengerukan Kali Apur dapat memberikan perhatian lebih terhadap dampak lalu lintas yang ditimbulkan selama proyek berlangsung.
Ia meminta adanya petugas yang secara khusus mengatur keluar masuk kendaraan proyek sehingga tidak mengganggu kendaraan masyarakat yang melintas.
“Kami berharap pemerintah atau instansi yang terkait dengan pengerukan Kali Apur dapat menempatkan petugas pengatur lalu lintas. Dengan begitu kendaraan proyek dan kendaraan umum bisa berjalan lebih tertib. Jangan sampai masyarakat terus dirugikan akibat kemacetan yang berkepanjangan,” katanya.
Keluhan serupa juga datang dari sejumlah pengendara lainnya. Mereka memahami bahwa pengerukan saluran Kali Apur merupakan pekerjaan penting untuk mendukung normalisasi saluran air dan mengurangi risiko banjir.
Namun demikian, mereka berharap pelaksanaan proyek tetap memperhatikan aspek keselamatan, kenyamanan, serta kelancaran mobilitas masyarakat yang setiap hari menggunakan jalan tersebut.
Warga juga meminta adanya koordinasi yang lebih baik antara pelaksana proyek dengan instansi terkait seperti Dinas Perhubungan dan aparat kepolisian. Langkah tersebut dinilai penting agar pengaturan lalu lintas dapat dilakukan secara maksimal, terutama pada jam-jam dengan volume kendaraan tinggi.
Masyarakat berharap solusi segera diterapkan sehingga kegiatan pengerukan Kali Apur tetap dapat berjalan sesuai target tanpa menimbulkan dampak kemacetan berkepanjangan bagi pengguna jalan maupun pelaku usaha yang setiap hari melintasi kawasan Rengasdengklok Utara. (Asbel)










