CIREBON — Tradisi Muludan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H kembali menjadi magnet bagi ribuan warga dan peziarah di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.
Digelar pada Selasa–Rabu, 1–2 September 2026, tradisi tahunan tersebut berlangsung meriah sekaligus sarat dengan nilai budaya dan keagamaan.
Rangkaian kegiatan yang diinisiasi Paguyuban dan Sanggar Pangmulueran Mancur Jaya diawali Pagelaran Brai Danalaya pada Selasa malam.
Kemudian, Rabu pagi, perhatian warga tertuju pada prosesi pengangkatan pusaka Buyut Kayu Mati atau Buyut Kayu Perbatang dari dasar Balong Kramat.
Pusaka tersebut kemudian dimandikan dan diganti kain pembungkusnya dengan yang baru. Setelah seluruh prosesi selesai, pusaka kembali ditenggelamkan ke dasar balong pada malam harinya.
Juru Pelihara Situs, Raden Suparja, mengatakan ritual utama tersebut secara rutin dilaksanakan setiap tanggal 19 Mulud atau yang dikenal dengan istilah Sangalase.
“Tradisi ini dilaksanakan setiap 19 Mulud, atau sekitar sepekan setelah tradisi Panjang Jimat di keraton-keraton Cirebon,” jelasnya.
Kemeriahan tradisi Pelal tahun ini turut dihadiri Sultan Kacirebonan PR Abdulgani Natadiningrat, S.E., bersama unsur Forkopimcam Kedawung dan Kuwu Kertawinangun.
Tak hanya ritual adat, kegiatan juga diisi doa bersama, pembacaan Barzanji, arak-arakan pusaka, hingga pawai budaya.
Festival Ogoh-Ogoh dan pawai budaya ikut menyedot perhatian warga. Kereta kencana yang membawa tokoh adat dan pejabat setempat menjadi salah satu daya tarik sepanjang rute pawai.
Sementara itu, lomba Tari Topeng Cirebon dan pentas seni Brai Danalaya menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus ikut melestarikan kesenian tradisional.
Tradisi tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Pelaku usaha lokal memanfaatkan ramainya pengunjung dengan membuka berbagai lapak dan menjajakan produk mereka.
Perpaduan antara ritual adat, nilai keagamaan, seni budaya dan aktivitas ekonomi masyarakat membuat tradisi Muludan di Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya bukan sekadar agenda tahunan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, tradisi ini menjadi pengingat bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat Cirebon—dan setiap tahun, ribuan warga tetap rela datang untuk menyaksikannya secara langsung. (Kirno)










