CIREBON, AlexaNews.ID – Cirebon Mall, pusat perbelanjaan modern pertama yang pernah berdiri megah di Kota Udang, kini menyisakan ironi. Bangunan yang dahulu menjadi simbol kemajuan dan kebanggaan warga Cirebon itu, saat ini terlihat memprihatinkan dan seolah berjalan sendirian melawan waktu.
Berdiri di kawasan strategis pusat kota, Cirebon Mall dulunya menjadi magnet aktivitas ekonomi dan sosial. Namun pantauan di lapangan menunjukkan wajah bangunan yang jauh dari kesan modern. Kerusakan fisik tampak jelas di berbagai sudut, terutama pada bagian fasad luar gedung.
Dinding bangunan terlihat kusam, dipenuhi noda bekas air, lumut, serta jamur yang menghitam. Cat yang dahulu cerah kini mengelupas di banyak bagian, menandakan minimnya perawatan dalam waktu lama. Papan nama ikonik bertuliskan “Cirebon Mall Pusat Perbelanjaan” pun tampak usang, dengan warna huruf yang memudar dimakan usia.
Kesan semrawut semakin terasa dengan keberadaan kabel-kabel listrik yang melintang tidak beraturan di bagian depan gedung. Kondisi tersebut tidak hanya merusak estetika, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran dari sisi keamanan.
Di area lantai bawah, coretan grafiti liar menghiasi dinding dan pintu besi. Aksi vandalisme ini kian menghilangkan citra eksklusif yang dulu melekat pada pusat perbelanjaan tersebut. Aura kejayaan masa lalu seakan terkikis oleh pembiaran dan kurangnya sentuhan revitalisasi.
Sebagai mal tertua yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi perkembangan urban Kota Cirebon, kondisi Cirebon Mall saat ini dinilai sangat disayangkan. Bangunan ini bukan sekadar tempat berbelanja, melainkan saksi bisu perjalanan ekonomi dan perubahan gaya hidup masyarakat Cirebon selama puluhan tahun.
“Kondisi gedung yang terbengkalai secara visual seperti ini pasti berdampak. Pengunjung jadi enggan datang, dan tenant di dalamnya bisa ikut mati pelan-pelan,” ujar Suleman, salah satu warga yang melintas di kawasan tersebut.
Menurutnya, jika tidak segera ditangani, Cirebon Mall berpotensi berubah menjadi titik kumuh di jantung kota. Hal itu tentu berbanding terbalik dengan posisinya yang strategis dan nilai historis yang dimilikinya.
Harapan besar pun disampaikan masyarakat agar pihak pengelola maupun pemerintah daerah tidak tinggal diam. Revitalisasi menyeluruh dinilai mendesak, baik melalui renovasi fisik, penataan ulang kawasan, maupun konsep pengelolaan yang lebih adaptif dengan kebutuhan zaman.
Dengan sentuhan yang tepat, Cirebon Mall diyakini masih memiliki peluang untuk kembali hidup dan berkontribusi bagi wajah kota. Lebih dari sekadar bangunan, Cirebon Mall adalah bagian dari memori kolektif warga Kota Udang yang layak dirawat, bukan ditinggalkan. (Kirno)










