PURWAKARTA, alexanews.id – Program mobil gratis untuk pengantin di Purwakarta ternyata bukan kebijakan baru yang muncul setelah Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein menjabat sebagai bupati. Dalam sebuah pernyataan terbarunya, Om Zein mengungkap bahwa gagasan tersebut sudah ia jalankan sejak puluhan tahun lalu, bahkan jauh sebelum dirinya menduduki kursi pemerintahan daerah.
Melalui penuturannya, Om Zein mengajak masyarakat mengingat kembali sebuah kendaraan legendaris yang pernah menjadi bagian penting dari pelayanan sosialnya. Mobil tersebut adalah sedan lawas dengan pelat nomor T30A yang dulu kerap digunakan untuk membantu warga, khususnya mereka yang hendak melangsungkan pernikahan.
Ia menjelaskan bahwa kendaraan tersebut dimilikinya saat masih menjabat sebagai Ketua DPD KNPI Kabupaten Purwakarta pada sekitar tahun 2004. Pada masa itu, kepemilikan mobil pribadi di kalangan masyarakat masih sangat terbatas, sehingga keberadaan kendaraan tersebut menjadi solusi bagi warga yang membutuhkan transportasi, termasuk untuk keperluan acara pernikahan.
Menurut Om Zein, mobil tersebut tidak hanya sekadar kendaraan pribadi, tetapi juga difungsikan sebagai fasilitas sosial. Banyak warga dari berbagai kecamatan meminjam mobil tersebut untuk dijadikan kendaraan pengantin. Bahkan, kendaraan itu menjadi bagian dari momen bahagia banyak pasangan yang melangsungkan pernikahan pada masa itu.
“Dulu masyarakat yang punya mobil masih sedikit. Jadi kalau ada yang menikah, sering pinjam mobil itu untuk pengantin,” ungkapnya dalam keterangan yang disampaikan.
Tak hanya warga umum, para pengurus organisasi hingga masyarakat dari berbagai wilayah di Purwakarta juga pernah merasakan manfaat dari keberadaan mobil tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa sejak awal, Om Zein telah memiliki komitmen untuk membantu masyarakat melalui fasilitas yang dimilikinya.
Seiring berjalannya waktu, kebutuhan masyarakat semakin meningkat. Tidak hanya kendaraan pengantin, tetapi juga transportasi untuk keluarga besar yang menghadiri acara pernikahan atau yang dikenal dengan istilah “ngabesanan”. Melihat kebutuhan tersebut, Om Zein kemudian mengembangkan inisiatifnya dengan menyediakan angkutan kota atau angkot.
Angkot yang dibelinya saat itu juga difungsikan sebagai sarana transportasi gratis bagi warga yang membutuhkan, terutama dalam acara keluarga seperti pernikahan. Kendaraan tersebut digunakan untuk mengangkut rombongan keluarga menuju lokasi acara tanpa dipungut biaya, kecuali untuk operasional dasar seperti bahan bakar.
Menariknya, ketika tidak digunakan untuk keperluan sosial, angkot tersebut tetap beroperasi sebagai angkutan umum dengan trayek tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas yang disediakan tidak hanya bermanfaat secara sosial, tetapi juga tetap produktif dalam keseharian.
Program ini kemudian terus berkembang. Om Zein melihat bahwa kebutuhan transportasi dalam acara pernikahan semakin besar, terutama bagi keluarga besar yang ingin ikut serta dalam prosesi. Dari situ, ia mengambil langkah lebih lanjut dengan menyediakan bus untuk keperluan tersebut.
Bus yang ia siapkan diberi nama “kareta ngabesanan”, sebuah istilah lokal yang merujuk pada kendaraan khusus untuk mengangkut keluarga dalam acara pernikahan. Layanan ini diberikan secara gratis kepada masyarakat, sehingga semakin banyak warga yang merasakan manfaatnya.
“Kalau rombongan banyak, bisa pakai bus. Itu sudah dari dulu sebelum jadi bupati,” jelasnya.
Hingga kini, layanan tersebut masih berjalan dan bahkan berkembang fungsinya. Selain digunakan untuk acara pernikahan, bus tersebut juga kerap dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan lain seperti wisata atau piknik bersama keluarga.
Pernyataan Om Zein ini sekaligus menjadi penegasan bahwa program mobil gratis pengantin yang saat ini dikenal masyarakat bukanlah kebijakan instan. Sebaliknya, program tersebut memiliki akar panjang yang berawal dari inisiatif pribadi dan kepedulian sosial sejak sebelum ia menjadi kepala daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Om Zein juga mengungkapkan rasa rindunya terhadap mobil sedan T30A yang menjadi cikal bakal program tersebut. Ia berharap masyarakat yang mengetahui keberadaan kendaraan itu saat ini dapat memberikan informasi kepadanya.
Mobil tersebut, menurutnya, memiliki nilai sejarah yang besar karena telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sekaligus membantu banyak warga dalam momen penting mereka.
“Mobil itu punya sejarah. Banyak orang menikah pakai mobil itu,” katanya. (Ega Nugraha)










