BEKASI, alexanews.id – Kabupaten Bekasi dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara dengan lebih dari 7.000 perusahaan beroperasi hingga awal 2026. Namun di balik megahnya kawasan industri tersebut, warga Desa Karangsari, Kecamatan Cikarang Timur, masih menghadapi persoalan infrastruktur dasar yang belum terselesaikan.

Jalan penghubung Kampung Tengah menuju Citarik sepanjang kurang lebih dua kilometer dengan lebar sekitar empat meter hingga kini sebagian masih berupa tanah. Kondisi tersebut membuat pengendara, khususnya roda dua, harus ekstra hati-hati saat melintas, terlebih saat hujan turun yang membuat jalan semakin licin dan berbahaya. Pada malam hari, situasi kian memprihatinkan karena minimnya penerangan jalan.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan besarnya anggaran daerah. Pemerintah Kabupaten Bekasi pada tahun 2025 mengelola APBD mencapai sekitar Rp8,3 triliun. Meski demikian, perbaikan infrastruktur di sejumlah wilayah, termasuk Desa Karangsari, belum merata dirasakan masyarakat.

Pemerintah daerah sejatinya telah mengupayakan optimalisasi dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR melalui Musrenbang CSR 2025. Program tersebut diharapkan mampu mendorong keterlibatan perusahaan dalam pembangunan daerah, termasuk perbaikan jalan dan fasilitas umum.

Namun, realisasi di lapangan dinilai belum maksimal. Kebutuhan mendesak warga seperti perbaikan jalan dan penerangan belum sepenuhnya terpenuhi. Hal ini menunjukkan masih adanya celah antara perencanaan dan implementasi program CSR di kawasan industri Bekasi.

“Jalan di sini masih seperti ini, dan kalau malam sangat gelap karena tidak ada lampu penerangan,” ujar Kaur Perencanaan Pembangunan Desa Karangsari, Sobari Teguh.

Di tengah kondisi keuangan daerah yang mengalami tekanan, peran sektor swasta dinilai sangat penting untuk mendukung percepatan pembangunan. Kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

Warga kini menanti langkah konkret di tahun 2026. Besarnya anggaran dan potensi CSR diharapkan tidak hanya menjadi angka di atas kertas, tetapi benar-benar diwujudkan dalam bentuk pembangunan yang dirasakan langsung, termasuk perbaikan jalan rusak di Desa Karangsari. (Wnd)

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.